www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws

Glittery texts by bigoo.ws

Tuesday, March 07, 2006

RASA


RASA

Hampir satu tahun aku tidak pernah main bersama anak itu, jalan bareng, makan, bahkan nonton sekalipun. Seharusnya perasaan itu sudah pudar seperti lilin yang kian redup cahayanya dimakan api yang menyala di atasnya. Tapi kenapa perasaan itu selalu hadir, setiap langkah yang ditapak oleh anak itu, masih menggema di rongga dada ini. Aduuuh, harusnya kan udah nggak kaya gini lagi!!, rutukku dalam hati, tiap pagi setibanya di sekolah dan melewati ruangan kelas yang ada sebelum kelasku. Kenapa juga leher ini tidak hentinya melongok ke bangku tempat duduknya setiap melewati kelasnya. Belum tentu dia memikirkan aku juga pada saat itu, gerutuku melewati anak tangga di depan kelasnya. Memang kelasku berada di sebelah kantin, sedangkan ruangan kelas anak gendut itu berada di samping ruang kepala sekolah. Tapi tiap pagi untuk beberapa saat aku selalu menyediakan waktuku untuk menoleh ke ruang kelasnya dan melihat bangku tempat duduknya, di pojok dekat tembok di sebelah pintu yang menghubungkan kelasnya dengan kelas sebelahnya.

Meski kadang aku tidak melihat batang hidungnya, tapi bila aku melihat backpack hitam miliknya, aku langsung merasa tenang, berarti dia masuk sekolah, setidaknya aku masih bisa menikmati keberadaannya di sekolah yang luas ini, walau tidak pernah lagi bicara dengannya. Apa sih sebenarnya yang menyebabkan aku tidak ingin berbicara lagi dengan dirinya, apa karena dia pernah menyakiti aku secara fisik ataupun kata-katanya?? atau karena keangkuhanku untuk tidak mau menerima keberadaannya yang sudah mempunyai pacar baru, apakah aku cemburu?? hal itu masih aku pertanyakan hingga kini.
Dulu, aku dan beberapa teman lainnya sering pergi jalan bareng, kongkow menurut anak-anak sekarang, pergi makan di pizza, bakmi, hard chicken atau pun hanya di warteg depan sekolah, yah meskipun bayar sendiri-sendiri tapi selalu ada acara yang membuat kita yang tidak satu kelas itu selalu jalan bareng untuk bercerita atau berbuat konyol, bolos jam pelajaran terakhir, untuk pergi nonton hemat dan banyak lagi. Tapi semenjak anak gendut yang -menurut anak-anak di sekolahku “cassanova” karena selalu berganti-ganti pacar itu- mempunyai tempat berlabuh, kegiatan rutin kami terhenti, benar-benar terhenti. Sebenarnya bukan kami yang menghentikan rutinitas itu, tapi aku yang berusaha menghindar dari kegiatan itu, entah dengan alasan aku harus pulang cepat, atau banyaknya PR yang harus aku kerjakan di akhir tahunku di sekolah menengah ini.
Yup, anak kelas satu yang baru masuk itu ternyata mampu mengambil hatinya dan meninggalkan teman2 atau sahabat-sahabat lamanya.
Anak dengan kulit putih bersih berkaca mata ini mempunyai daya tarik sendiri di mata teman gendutku yang satu ini sehingga dia mampu berkata kasar kepadaku karena aku pernah memarahi pujaan hatinya tersebut. Tersinggung?? Seharusnya tidak, karena aku sadar yang aku lakukan itu tidak baik, dengan mengatakan rambutnya gimbal. Hehehe, tapi itu kan hanya lelucon yang biasa aku utarakan kepada orang-orang… seperti dia juga sering mengejek teman-teman lain dengan sebutan yang lebih parah lagi. Ya..ya..ya…namanya juga pujaan hati, kalau terjadi sesuatu pada dirinya pasti akan selalu dibela mati-matian oleh sang kekasih.
Ooops…kenapa topiknya jadi anak itu dan pacar barunya yaa? (STOP)
@#$%^&*


Rasa, menurut kamus bahasa indonesia milik keponakanku artinya apa yang dialami oleh hati atau batin, ketika pancaindra menanggapi sesuatu, pertimbangan pikiran, hati, mengenai baik-buruk, salah-benar dan sebagainya. Kemarin secara iseng aku baca pengartian dari rasa ini, dan teringat betapa setiap manusia diciptakan dengan memiliki rasa yang begitu beragam. Rasa yang dimaksud di sini bukan hanya rasa yang indah-indah ketika bersama pasangan tercinta, anak, teman-teman bisa juga rasa ini diungkapkan seseorang pada binatang peliharaan, tanaman, bahkan musuh rival sekalipun.

Setiap perbuatan dan tingkah laku ternyata mampu menciptakan rasa. Misalnya ketika aku diperlakukan tidak baik oleh temanku, perasaan yang timbul adalah aku marah, jengkel, dan ketika aku mendapat pujian dari orang tua, guru, atau orang lain, perasaan yang akan muncul adalah senang, bahagia, bangga.
Ternyata rasa itupun mampu membawa ke suasana hati kita, ketika rasa senang muncul, keberadaanku yang mempunyai banyak pekerjaan akan tetap terlihat menyenangkan. Tapi ketika rasa sedih atau marah yang hinggap akan membuat seseorang tidak mampu memusatkan perhatiannya pada pekerjaan yang sedang dia lakukan. Ternyata begitu dahsyatnya rasa yang terjadi pada seseorang.
Yah memang tergantung orang yang mengendalikan rasa itu sendiri sih, bagaimana dia menyikapi rasa yang terjadi pada dirinya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home