www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws

Glittery texts by bigoo.ws

Tuesday, February 07, 2006

Boong

Boong
06/02/2006

Jam 3.00 pagi, aku sudah terbangun. Itu memang jadwal untuk sholat tahajjud ku yang sering aku lewatkan hingga subuh menjelang. Tapi kali ini, aku berusaha bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, karena sholat Isya’ku semalam belum terlaksana (mulai kambuh lagi nih, malesnya).
Alhamdulillah, sholat Isya terlaksana, juga sholat tahajjud yang sudah lama tertinggal pun dapat aku tunaikan dengan baik.

Hujan deras dan berangsur habis, mengiringi keberangkatanku ke kantor hari ini. Sebenarnya pagi ini, aku sudah mempunyai niatan untuk bolos kerja, tapi apalah daya pekerjaanku yang menuntut aku harus masuk dan menyelesaikannya memaksa diriku yang lemah tak berdaya ini berjalan melewati rintik hujan.

Berbekal jaket hijau lumut yang selalu kubawa tiap hari, aku berhasil sampai di stasiun kereta api jurusan Jakarta. Setengah berlari kupaksakan diriku mencapai gerbong kereta itu karena dalam hitungan menit kereta akan segera berangkat. Phuih…akhirnya Allah Maha Penyayang masih mengijinkan aku pergi ke kantor dengan tubuh yang lengkap (biasanya kalau sudah terlambat naik kereta ini, aku akan naik kereta yang penumpangnya berjubelan hingga ke atap dan pintu, bila memang harus naik kereta itu, berarti harus bersiap-siap dengan baju yang cukup lecek dan celana yang kotor akibat terkena himpitan dan kaki-kaki para penumpang lain).

Sampai stasiun tujuan, hujan rintik masih menemaniku. Musim hujan ini masih berlanjut di bulan Februari ini, temanku pernah mengatakan hujan merupakan waktu yang baik untuk berdoa. Niatan untuk bolos kerja masih terngiang di rongga kepalaku. “Apa sebaiknya doanya disesuaikan dengan keinginanku saat itu ya?” pikirku nakal.

Haaah…!@#$%^&*!! Udah sampai depan pintu kantor, harus bagaimana ini?? Kalau berbalik dari gerbang, Mas Theo dan Em sudah ada di depan..

Kacau….!!

Dengan sangat berat hati, aku memasuki ruangan kantor dan mengisi absensi. Seharusnya aku pergi ke tempat lain untuk berfikir sebelum kaki ini sampai di depan pintu/gerbang kantor dan dipergoki oleh teman-teman yang sudah lebih dulu datang, rutukku dalam hati.

Sungutku makin jadi tapi kutahan dan mesam-mesem menyapa mereka,

Wah hujan nih…. Tanyaku malas.

Iya Ma, kamu ngak kehujanan tadi?? Tanya Mas Theo sambil berdiri menungguku absen di alat absensi kantor kami.

He eh… jawabku sekenanya dan berlalu menuju ruangan kerjaku di bagian belakang kantor berbentuk rumah ini.

Di luar angin makin kencang dan tetesan air hujan makin deras. Apa ini pertanda aku tidak boleh bolos kerja yaa, pikirku cepat setelah beberapa menit yang lalu bersungut-sungut. Lagipula memang pekerjaanku menginput data harus diselesaikan secepatnya, sebelum data bulan berikutnya datang bertubi-tubi seperti biasa.

Teman-teman sekantorku sudah mulai berdatangan seiring dengan derasnya hujan yang makin menjadi-jadi, lewat jendela ruang kerjaku kulihat orang-orang menggunakan payung warna-warni, merah, hijau, biru, kelabu, motif kotak-kotak, bunga-bunga dan polos, mereka saling menertawai, karena pakaian yang basah atau sepatu yang kotor akibat cipratan hujan di pagi hari ini.

Alhamdulillah, puji syukurku kembali mengalir, jika tadi aku jadi membolos, belum tentu aku ada di ruangan kantorku yang hangat ini (karena AC-nya kubuat pada derajat yang terendah).

Sibuk dengan pekerjaan rutin dan membosankan seperti biasa, membuatku tidak menyadari jika waktu berlalu begitu cepat bahkan terlalu cepat karena setelah kusadari kurangnya waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku itu, dan aku harus segera pergi karena sudah mendapatkan ijin pulang lebih awal dari Mba Eka.

Jam 13.00, setelah sholat dzuhur ku minta diri di ruangan untuk pulang lebih awal, disertai pertanyaan dari beberapa teman-temanku yang penasaran karena aku tidak pernah pulang lebih awal seperti ini sebelumnya.

“Mau kemana mba?” Tanya Anis bingung bersamaan dengan pertanyaan Mba EkaD, “ Eh si Bocah mo kemana?”

Mau periksa kandungan… jawabku asal dan berlari keluar kantor diikuti tatapan aneh mereka. Hah, bohong kedua hari ini, setelah minta ijin pulang cepat pada Mba Eka.

Bias hujan masih membayangi udara di luar kantorku, walau mentari sudah mulai menyembul di antara awan-awan yang berarakan menuju ke segala arah. Lumayan untuk mengurangi polusi udara akibat sesaknya kendaraan di jalan raya ini.

Mau kemana yach…

Kesibukan siang hari kembali terasa, anak kuliahan dengan buku-buku tebalnya sedang menunggu bus di halte, penjual kue pancong yang sudah mulai mangkal di bawah jembatan penyeberangan, tukang las ketok di pinggir jalanpun sudah mulai memanggil-manggil mobil yang lalu lalang di dekatnya.

Kuberhentikan bajaj oranye dengan sopir bapak setengah baya.

Bang, stasiun Juanda….

Setelah tawar menawar, abang bajaj setuju menerima pembayaran sebesar lima ribu rupiah sampai ke stasiun Djuanda disertai tatapan mata orang-orang lain yang masih menunggu bus tumpangannya.

Stasiun Universitas Pancasila terlewati, ku bergegas melangkah ke depan pintu untuk turun di stasiun selanjutnya, stasiun UI, tempat biasa aku bersama teman-teman menunggu bus kampus atau warnet tempat biasa kami chatting dan ngobrol-ngobrol.

Buzz
Ma…!!

Buzz

Tumben loe online??

Gw kabur, ini lagi di warnet UI

Kok loe ga ngajak2 gw sich??

Apanya yg ga diajak?? Gw dah telp loe ke kantor ga diangkat2

Pan gw lagi di bawah

mang ga ada orang di ruangan??

Hp gw ketinggalan di rumah

Pantesan gw telp ga diangkat juga, trus mailbox

Yah maklum kebiasaan lama

Pelupa…
Ijup ke mana ya?? Ko gw panggil ga dijawab juga yaa??

Lagi cb kali dia

Ya..ya..ya..

Lagi ga ada boss nih, nomat yuks
Film yg diangkat dari novelnya si Aditya itu loh

Yu..yu..yu

Dapet kata-kata baru lagi tuh

Iya dari extravaganza
Sebenarnya itu teori isengku lagi, kalo ok (jamaknya = oks)
Kalo yuk (jadi = yuks). Tapi kalo ya kan nggak mungkin dengan yas, itu sudah pasti aneh kedengarannya. Maka aku gunakan “ya…ya…ya..”

Aneh…!
……………

Seneng yaa bisa ngobrol, biar cuma lewat chat, gw kalo keluar dari kantor itu berasa keluar dari box warna hitam tanpa celah dan cahaya.
Rasa bosan yang selalu menyergapku itu kadang kulampiaskan lewat chat atau melihat-lihat email dari teman-temanku.

Hari ini, ternyata bohongku menghasilkan suasana yang menyenangkan, cukup untuk menghilangkan rasa bosan dan kesalku hari ini. Tapi ini mungkin tidak akan aku ulangi lagi karena biasanya bohong tidak selalu berakhir dengan kebaikan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home