www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws

Glittery texts by bigoo.ws

Monday, February 13, 2006

First Flight


First Flight

Untuk pertama kalinya aku bepergian menggunakan pesawat udara, sudah lebih dari duapuluh tahun aku hidup dan sering bepergian, tapi baru kali ini merasakan yang namanya pergi melintasi awan. Kelihatannya mungkin norak dan memprihatinkan, tapi pada dasarnya karena masalah keuangan, kan biaya untuk naik pesawat itu mahal, apalagi aku tau keadaan orang tuaku yang pas-pasan. Selain itu, gaji yang kuterima di kantorku ini juga masih belum memungkinkan aku pergi jalan-jalan menggunakan pesawat terbang, namanya juga pegawai rendahan. Kebiasaan burukku ketika bepergian juga cukup memalukan, yakni suka mabuk darat dengan cirri-ciri: mual, kepala pening, jantung berdebar keras, maklum dari kecil hingga kini biasa naik bus kota dan angkutan umum, jadi kalau harus menggunakan kendaraan atau alat transportasi yang rada mewah agak membuat kaku juga kelihatannya. Seperti juga naik mobil pribadi dengan ac yang cukup, aku akan merasakan kepala sakit dan perut mual-mual. Keadaan ini sudah berlangsung dari aku masih kecil, yang selalu mabuk darat bila bepergian cukup jauh.

Aku ingat, sewaktu kecil, yah kira-kira masih di bangku sekolah dasar aku bepergian bersama ibu ke depok - rumah sepupuku – sedangkan pada saat itu aku tinggal di Blok A, arah cipete kalau dilihat dari Blok M, rumah yang nyaman karena dekat dengan Mesjid Darussalam dan SMAN 46 tempat kedua kakak ku meluluskan sekolah tingkat akhirnya. Bila bepergian, ibuku selalu mengajak aku, karena tinggal aku anak satu-satunya yang bisa dibawa tanpa harus banyak cingcong untuk menolak permintaannya. Yah, kalau kakak-kakakku yang lain, pasti mempunyai beribu alasan untuk tidak ikut ibu untuk pergi ke Depok, yang dulu menurut mereka adalah tempat jin buang anak, karena tidak terlihat di peta kota Jakarta ataupun Bogor (haha itu kan salah satu alasan supaya mereka bisa bebas bermain ketika ibu pergi). Untuk masalah bepergian, memang aku tidak pernah rewel, karena pada dasarnya aku mempunyai kesamaan dengan ibuku, yakni senang bepergian. Namun kurangnya, yaitu tadi aku sering mabuk dalam perjalanan, alias muntah-muntah dan sakit kepala. “Bu, kapan nih, kita sampainya?” kataku sambil menempelkan kepalaku di lengannya. “Iya sebentar lagi sampai kok! Lilis sudah mulai pusing ya, sini tidur saja di pangkuan ibu, nanti kalau sudah sampai ibu bangunkan.” Kata ibuku penuh perhatian. “Tapi kepala Lilis tambah pusing nih, dan perut sudah mulai terasa mual” tambahku dengan wajah pucat dan peluh yang mulai bercucuran. Dengan sabar ibuku mengelus rambut bondolku yang selalu dipotong gaya anak laki-laki oleh ibuku, karena menurut beliau rambut panjang tidak pernah cocok dengan wajahku yang lonjong. “Ini ibu bawa permen asem kesukaan Lilis - (permen asem manis di dalam bungkus yang sebentuk dengan bungkus uang logam kecil yang berisikan lembaran permen asem manis sebanyak kurang lebih lebih 20 leping, kalau ditanya mereknya aku sudah lupa, tapi sepertinya masih sering ada di jajanan sekolah – kalau nggak salah), katanya menenangkan hati. Yah memang begitulah salah satu cara, menghilangkan rasa mual dalam perjalanan, makan permen, atau ngemil beragam makanan. Kalau sekarang sih, biasanya aku akan makan coklat untuk menahan timbulnya rasa mual, tapi kalau sudah terlanjur mual, yah…mau diapakan lagi.

Karena hobiku ini aku, dulu pernah bercita-cita mempunyai kendaraan pribadi untuk bisa mengantarkan ibu atau kakak-kakakku pergi ke mana saja, boleh motor, atau mungkin mobil, tapi ternyata keluarga kami hanya mampu membelikan aku sepeda gunung, itu pun lungsuran dari milik abangku yang sebentar lagi akan hijrah ke Bandung.

“Ibu…..!! jeritku dalam hati, akhirnya kesampean juga naek pesawat terbang!!” padahal dulu aku pernah berjanji untuk membiayai ibu naik haji, yang so pasti pergi dan pulangnya naik pesawat terbang kan yaa…tapi ternyata ALLAH berkehendak lain, sebelum aku sempat mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah rukun islam yang kelima itu, ibuku sudah lebih dulu dipanggil untuk menghadap Allah, kenangku ketika sampai di bandara cengkareng. Butiran bening di sudut mataku bila mengingat semua kejadian yang berhubungan dengan ibuku.

Ketika check in aku minta petugas boarding pass untuk menempatkan aku di tempat duduk dekat jendela, “Mas aku minta tempat duduk di pinggir yaa…yang deket jendela!” Sambil mangut-mangut, petugas ini mencantumkan tempat duduk yang kuinginkan di boarding pass milikku.
Deg-degan juga ternyata, aku takut kalau aku harus mual dan muntah di atas pesawat, alangkah memalukannya. Selain itu karena aku bepergian sendiri, sudah barang tentu tidak akan ada yang bersimpati pada keadaanku yang mabuk kendaraan ini. “Whuaa…..nggak boleh ngebayangin yang nggak-nggak nih…!!” kataku sambil berjalan ke pintu A1 untuk segera menaiki pesawat yang akan menumpangiku. Gemeteran juga rasanya dengkul kakiku ini, ketika melewati lorong yang menghubungkan ruang tunggu dengan pesawat. “Hm….masa’ begini aja takut, kan sama aja naik wahana di Dunia Fantasi”, pikirku menenangkan diri. Masa aku sampai kalah dengan Arby & Zikra yang belum berusia lima tahun itu yang sudah 8 kali naik pesawat terbang. Mudah-mudahan penumpang lainnya tidak memperhatikan gelagat aneh yang aku timbulkan gara-gara ketidakpedeanku ini. Dengan gagah aku bergerak mencari tempat duduk, “Yap, tepat di samping jendela! Jadi aku akan bisa melihat pemandangan dari tempatku ini.”

Pramugrari memberikan penjelasan mengenai penggunaan seat belt dan mematikan handphone, dan bahwa kita akan segera berangkat. Doaku mulai terurai di bibir sejak aku mulai memasuki badan pesawat. Maha Suci Allah yang mampu menundukkan kendaraan ini, sedangkan aku tidak akan pernah mampu. Amin. Ketika pesawat mulai terbang, aku ternyata tidak semabuk seperti naik kendaraan lainnya. Alhamdulillah, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hambanya yang penakut dan paranoid ini. Pramugari pesawat masih memberikan penjelasan mengenai penggunaan perlengkapan pesawat bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan - mudah-mudahan sih nggak terjadi apa-apa, baru pertama kali nih – tapi aku sibuk dengan pemandangan di luar jendela pesawat. Sama persis rasanya dengan naik wahana kora-kora di Dunia Fantasi ketika pesawat mulai naik. Ini sih, nggak ada apa-apanya….tawaku sambil lirak-lirik penumpang yang lain. Yah, ternyata penerbangan pertamaku berjalan mulus. My first flight.

1 Comments:

At 5:20 PM, Blogger Ncie said...

wha..ha..ha... loe kan paling ngak suka naik kora2 enjoy aja lagi... masih ada flight selanjutnya kan ok?
kapan qta Dufan....

 

Post a Comment

<< Home