Penumpang kereta yang aneh
Sesampainya di peron kereta arah Jakarta, aku mendengar pengumuman bahwa kereta Depok-Jakarta akan memasuki jalur 1, wah senangnya hari ini tidak perlu berlari-lari mengejar waktu keberangkatan kereta. Tapi…..kenapa semua gerbongnya gelap gulita seperti tak berlampu?? Apa ini salah satu usaha PT. KA untuk mengurangi penggunaan listriknya….hm…terlalu mengada-ada, itu kan fasilitas umum, masa tidak ada lampu yang menyala sama sekali. Pfuih… harus naik juga, karena penumpang sudah mulai berdorong-dorongan di pintu masuknya.
Di dalam kereta nan gelap gulita inilah cerita berlanjut, samar-samar aku melihat siluet penumpang yang sudah duduk rapi di bangku penumpang (pasti mereka naik dari stasiun Bogor nih). Perlahan aku rapikan berdiriku di depan para penumpang bapak-bapak/laki-laki yang terlihat tidur atau pura-pura tidur (tidak terlihat jelas karena masih tetap gelap), karena tidak mendapatkan kesempatan aku terpaksa berdiri bersama penumpang lain yang tidak beruntung. Karena ramainya penumpang, sepertinya senggol menyenggol pasti terjadi, seperti tadi di kegelapan ada yang menyenggol kaki penumpang yang duduk di hadapanku (atau mungkin kaki aku sendiri yaa…*pura-pura ga tau*). Dengan serta merta bapak yang duduk di hadapanku menendang kakiku dengan kerasnya.
“..BUG..” suaranya seperti orang menggebok bola, dengan perasaan kaget dan tercengang aku mundur perlahan. Bapak yang nota bene adalah penumpang yang duduk di hadapanku segera bangkit dari bangkunya dan bersungut-sungut memaki aku, “KALAU MAU DUDUK, GA USAH PAKE TENDANG-TENDANG KAKI DONG!! Aku terdiam dan bengong untung gerbong kereta itu tidak menggunakan lampu (Alhamdulillah kalau lampunya terang pasti orang-orang akan melihat mulutku yang menganga akibat bentakan itu). “BILANG BAIK-BAIK KALO MAU MINTA DUDUK, PASTI JUGA SAYA KASIH” lanjutnya berapi-api. Karena aku tidak merasa bersalah, aku diam saja tidak menanggapi kata-kata kasarnya tersebut dan langsung menduduki bangku yang tadi dia tempati karena orang-orang sekitarnya tidak ada yang berani mendudukinya. (cuek bebek- kalau kata orang sekarang). Dalam hati sebenarnya ketar-ketir juga kena omel panjang lebar oleh bapak yang aku perkirakan berumur 40-50 tahun. Tapi sekali lagi, karena lampu gerbong yang padam itu, aku cuek bebek duduk tenang di bangku penumpang meski aku yakin saat itu mukaku amat sangat merah padam, akibat suaranya yang kencang dan semakin kencang.
“HU UH, MAU MINTA DUDUK AJA PAKE TENDANG-TENDANG KAKI SEGALA..!!
(yee…siapa juga yang nendang, perasaan kaki saya yang Bapak tending, untung cuma kena sepatu kalo nggak pasti mata kaki saya yang biru-biru… kalo emang nggak mau ngasi duduk kenapa pake berdiri, salah sendiri…ada bangku kosong kok ya didiemin. Lagian kalo emang aku salah, aku nggak bakalan duduk di bangku Bapak, Tau!!)
“KALO MINTA BAIK-BAIK JUGA SAYA PASTI KASIH”
(masa iya sih…?? Biasanya juga pura-pura tidur sampai stasiun kota Pak! Lagian emang saya nggak minta dikasi bangku kok, biasa juga sering berdiri…sampai Pasar Minggu atau Tanjung Barat pasti ada yang ngasi duduk, kenapa sewot….weee)
“KERETA CUMA MODAL SERIBU PERAK AJA KOK BEGITU..! MENDING BAWA PULANG AJA TUH BANGKU…!”
(maaf nih Pak, mungkin kalau Bapak dari Bogor sampai Kota hanya bermodal duit seribu perak itu juga kalau diperiksa oleh petugas KA, kalau saya modal Abodemen….rada gengsi dikit nih.
Terus kalau bangku penumpang di KA aku bawa pulang, apa nggak bikin badan berotot?? Bangku itukan lumayan berat dan besar kale Pak…. Kalap bener nih, orang…Astaghfirullah…kenapa hati ini ikutan kalap yaa..)
Wah kenapa nggak berhenti-henti nih ngocehnya….sayang aku lagi nggak bawa lakban, kalo ada kena plester tuh mulut bawel, ternyata bukan cuma perempuan doang yang bawel, ada jenis lelaki yang suka bawel juga. Kalau gerbong itu terang pasti aku perhatikan sekitar bibirnya, karena menurut orang-orang, kalau di sekitar bibirnya atau mungkin tepat di bibirnya terdapat tahi lalat menandakan orang itu cerewet dan suka ngomong.
“TUH MBA, IKUTAN AJA DUDUK DI SAMPINGNYA! Sambil menuding ruang kosong di sebelahku untuk gadis muda yang berdiri di sampingnya.
Sambil senyam-senyum aku juga menggapai perempuan muda itu untuk duduk di sampingku (yah emang sebelum dia ngomong begitu aku juga sudah mau mengajak orang lain yang bisa duduk bersama aku, maklum posisi tempat untuk bapak itu ternyata cukup untuk posisi 2 orang wanita. Dengan wajah terbengong-bengong dan mungkin ketakutan gadis muda berambut panjang dan berkaos warna merah itu menurut untuk duduk di sampingku.
“UDAH LANGSUNG TIDUR AJA, GA USAH PAKE TENGAK-TENGOK LAGI…!! UDAH DAPET POSISI ENAK JUGA..!!” lanjutnya lagi masih dengan suaranya yang menggelegar.
Aku senyam senyum sambil bermuka merah….ampun deh Pak dengernya….!! Tapi dengan segala daya upaya aku PD dan cuek mendengar perkataannya. (Ini PD atau tambeng yaa…)
Dua stasiun terlewati, masih bisa kudengar ocehannya tentang segala kemampuanku untuk mengusir orang, haah….biar aja deh, yang penting aku dapet duduk dengan tenang, dan awas aku nggak mau gantian ma siapa-siapa sampe di stasiun tujuan Cikini, ancamku (tapi tetep dalam hati). Karena menurut aku bisa saja aku menangkis dan melawan setiap perkataannya, tapi apa ada gunanya?? Mungkin dia akan bertindak lebih menyeramkan daripada cuma mengoceh, aku kan tidak bersama teman-teman atau keluarga yang bisa aku jadikan backing-an.
Stasiun demi stasiun terlewati, dan suaranya mulai pudar, karena haus atau karena sudah terdesak oleh penumpang yang cukup padat hari ini, atau karena mulai merasakan malu??
Akhirnya sampai di stasiun Cikini, aku berdiri tanpa merasa harus berbasa-basi dengan Bapak galak itu, tapi di pintu aku mendengar gadis muda tadi berbasa-basi “Bapak mau duduk..?” katanya takut-takut. “nggak usah” jawabnya. Whuaaa….ngambek Pak??
Halah….ga mau cape mikirin penumpang galak itulah, mikirin perutku berat badanku yang turun 2 kilo gara-gara diare selama 2 hari aja sudah bikin pusing, masih harus menambah memori untuk mikirin penumpang galak yang salah tempat dan salah orang untuk dimaki-maki.
NB.
Besok gimana nih, harus naik di gerbong itu juga nggak yaa?? Kalau aku pindah gerbong, itu menandakan kalau aku takut dan malu. Tapi kalau tetap di gerbong itu… still can I face all the other passenger??










2 Comments:
huahahahaaa ... cacingan deh loe, pagi2 dah kena semprotan nyasar. kenapa loe ngga sumpel aja mulutnya pake kaos kaki? ngga pake kaos kaki? pake sepatu aja ...
pengennya sich....cuma saat itu gw cuma kepikiran buat dapet duduk bo! cape gitu pagi2 naek kereta pake berdiri lagi.....huu...gimana gw ga tambah kurus, tapi betis membesar
Post a Comment
<< Home