www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws

Glittery texts by bigoo.ws

Saturday, July 08, 2006

Ego is Me?

Ego is me, pemisahan sebuah kata menjadi suatu kalimat yang menyatakan di dalam diri manusia terdapat ego yang amat sangat mempengaruhi kehidupan, perilaku, bahkan sikap seseorang.

“Gw ga suka cara dia memperlakukan gw....” . Itu yang sering terdengar bila orang marah dan kesal pada perlakuan orang lain.

Beberapa hari yang lalu temanku Erna, membicarakan tentang mamahnya yang membela adik bungsunya yang secara sengaja memukul kepala Erna yang merupakan anak tertua di keluarganya. Ko bisa Uta mukul kepalamu Na?? Emangnya kenapa, tanyaku hati-hati. Iya dia mukul kepalaku dengan sengaja karena titipan yang dia pesan tidak sesuai dengan keinginannya... Udah gitu mamah membela Uta, dengan mengatakan bahwa ga usah minta2 lagi sama tetehnya karena kalau orang sudah punya penghasilan suka lupa sama saudara2nya. Aku kan sakit hati, Uni (matanya mulai berkaca-kaca). Masa’ mamah bisa-bisanya bilang begitu di depan Uta, aku ga sengaja ko ngebeliin pesanan yang salah, karena setahu aku, pesanannya sudah benar.
Mungkin mamah ga tau kalo Uta salah....kataku menenangkan.
Tapi kalo ada Bapak, pasti Uta kena marah, sayang aja Bapak lagi dinas ke luar kota....Kalau Bapak pasti lebih tau mana benar, serunya berapi-api. Makanya beberapa hari ini, aku ga tegoran ma mereka.
Haah? Ga bole gitu atuh, Na...
Yah namanya juga orang tua Na, mudah tersinggung, jadi pinter-pinternya kita menghadapi mereka... (jawabku sok dewasa...padahal kalau aku yang berada di posisi itu belum tentu bisa tenang seperti sikap yang aku tunjukkan kepada Erna).

Selain itu aku pernah mendapat curhat dari temanku yang lain, yang menceritakan bagaimana dia dipermalukan di hadapan atasannya.

Untuk keadaan ini, saya diharapkan sebagai arbitrator yang bisa menengahi ketegangan di antara orang-orang tersebut.

Bila kejadian tersebut menimpa diri saya, kemungkinan besar saya akan bertindak seperti yang teman-teman saya lakukan, marah, kecewa, dan berbagai macam perasaan lain yang mungkin berkecamuk.
Jadi harus sering-sering beristighfar, banyak mengingat Allah...jadi setiap hati kita mulai terkotori, bisa dibersihkan melalui dzikir kita mengingat Allah SWT.

Egoisme emang cocok kalo dipisah menjadi ego is me, setiap ego yang kita keluarkan merupakan hawa nafsu yang diumbar karena keinginan diri kita untuk dilihat dan dibenarkan... walau sebenarnya belum tentu benar... itulah ego.

Ada sedikit artikel yang saya ambil untuk melengkapi keberadaan egoisme ini, berikut penjelasan A Ilyas Ismail.

Melawan Egoisme
Manusia cenderung egoistik, mementingkan diri sendiri. Egoisme merupakan suatu kejahatan dan dipandang sebagai pelanggaran moral karena ia selalu mengabaikan kepentingan orang lain. Egoisme membuat manusia jauh dari kebenaran dan menyimpang dari petunjuk Tuhan. Egoisme, dengan demikian, dapat dipandang sebagai penjara (belenggu) bagi manusia.
Dalam bahasa agama, ego atau egoisme itu dinamai hawa nafsu. Perkataan hawa nafsu berasal dari kata Arab. Hawa berarti keinginan dan al-nafs berarti diri manusia atau kecenderungan dalam diri manusia. Jadi, hawa nafsu berarti kecenderungan dalam diri manusia untuk selalu mengikuti hal-hal yang buruk.
Oleh karena itu, manusia disuruh melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Usaha manusia dalam perjuangan melawan hawa nafsu ini tentu bertingkat-tingkat, tergantung pada kemampuan dan kekuatan imannya. Dalam buku Mizan al-'Amal, Imam Ghazali menyebutkan tiga tingkatan manusia dalam masalah ini.
Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. Dengan begitu, ia sungguh telah mempertuhankan hawa nafsunya seperti dimaksud ayat ini, ''Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.'' (Al-Jatsiyah: 23).
Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada suatu kali ia menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid. Dikatakan demikian, karena ia sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sesuai perintah Nabi SAW, ''Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.'' Ini merupakan tingkatan manusia yang tinggi di bawah para nabi dan wali-wali Allah.
Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. Menurut Ghazali, ini merupakan tingkatan para nabi dan wali-wali Allah. Dalam perjuangan melawan hawa nafsu, menurut Ghazali, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus, supaya ia jangan tertipu (ghurur). Kata Ghazali, banyak orang merasa telah bekerja dan berjuang untuk agama, nusa, dan bangsa, padahal sesungguhnya ia bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan untuk memuaskan egonya.
Sikap waspada juga diperlukan karena sering timbul kerancuan (iltibas) antara perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). Berbeda dengan nafsu, akal secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan.
Dalam situasi demikian, Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan. Alasannya, kebaikan pada umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Kata Nabi, ''Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.'' Wallahu a'lam.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home